Dharma, Syarat Kehidupan Yang Bahagia

Oleh :

I Made B. Tirthayatra

Dharma merupakan hal yang mendasar dalam ajaran Hindu. Berbagai pustaka suci Hindu disebut juga dengan Dharma Sastra karena merupakan penjelasan mengenai dharma dan cara pelaksanaannya[1]. Bahkan tujuan ditulisnya Bhagawad Gita, kitab yang merupakan intisari Veda, adalah untuk mengingatkan manusia agar menjalankan dharma. Bhagawad Gita dimulai dengan kata dharma dan diakhiri dengan kata mama yang artinya adalah kepunyaanku. Apabila kata pembuka dan penutup Bhagawad Gita ini digabung, ia akan menjadi mamadharma yang artinya adalah dharma saya[2]. Oleh karena itu kitab yang merupakan intisari Veda ini tidak lain merupakan petunjuk bagaimana manusia menjalankan dharma atau kewajibannya.

Pentingnya pelaksanaan dharma juga dapat dilihat dari konsep Catur Purusha Artha, atau empat tujuan hidup yang utama. Dari empat tujuan hidup yang diajarkan dalam Agama Hindu, dharma berada pada urutan pertama, kemudian baru disusul oleh artha (kekayaan), kama (nafsu, keinginan) dan moksa (kebebasan). Ditempatkannya dharma pada urutan pertama menunjukkan bahwa dharma lah yang harus dicapai pertama kali. Jika seseorang berpegang pada dharma, dengan sendirinya ia akan mendapatkan artha dan kama[3]. Tidak ada artinya mendapatkan artha dan kama apabila didapatkan dengan cara yang menyimpang dari dharma[4]. Pencapaian kekayaan dan pemenuhan keinginan yang melanggar dharma tidak membawa moksa atau kebebasan, namun justru membawa ketakutan dan penderitaan. Begitu pentingnya konsep dharma dalam ajaran Hindu, sehingga nama Hindu, yaitu Hindu Dharma dan Sanathana Dharma, mengandung kata dharma di dalamnya.

Pengertian Dharma

Dharma merupakan karakteristik hakiki dari suatu entitas[5]. Karena karateristik hakiki suatu entitas akan menentukan kewajiban entitas tersebut, maka dharma juga berarti kewajiban. Sebagai contoh, karakteristik hakiki gula adalah rasa manis sehingga gula harus menjalankan kewajibannya memberikan rasa manis. Apabila gula berhenti menjalankan dharmanya memberikan rasa manis, ia tidak lagi dapat disebut gula. Demikian juga dengan api. Karakteristik dari api adalah rasa panas, sehingga api harus menjalankan kewajibannya memberikan rasa panas. Apabila api berhenti menjalankan dharmanya memberikan panas, maka ia tidak lagi dapat disebut api. Selain kewajiban, dharma memiliki pengertian lain yang lebih luas seperti kebaikan dan kebenaran[6]. Pengertian dharma sebagai kewajiban, kebaikan dan kebenaran adalah sejalan dan saling melengkapi, namun untuk menyederhanakan pembahasan dalam artikel ini pengertian dharma difokuskan pada kewajiban.

 

Manfaat pelaksanaan Dharma

Agama Hindu mengajarkan bahwa hidup manusia hendaknya semata-mata dimanfaatkan untuk menjalankan dharma atau kewajiban[7]. Dengan prinsip bahwa hidup adalah untuk menjalankan kewajiban, seseorang bukan saja akan bekerja tanpa pamrih namun juga tidak akan mencari kesenangan atau penghiburan yang bertentangan dengan kewajibannya.

Kewajiban-kewajiban yang kita miliki dalam hidup sangat beranekaragam. Misalnya kewajiban dalam peran sebagai anak, kewajiban dalam peran sebagai orang tua, sebagai suami atau istri, sebagai bawahan atau atasan dan sebagainya. Apabila seluruh kewajiban tersebut dijalankan dengan baik, bukan hanya kita yang memperoleh manfaatnya tetapi juga lingkungan kita. Sebaliknya, apabila ada satu saja kewajiban tersebut yang tidak kita jalankan, bukan hanya kita yang merasakan dampaknya tetapi juga orang-orang di sekitar kita.

Dengan menjalankan kewajiban secara konsisten, seseorang akan mendapatkan hasil yang di atas rata-rata. Misalnya seorang pegawai. Kewajiban pegawai antara lain adalah datang tepat waktu dan tidak pulang sebelum waktunya, tidak bertengkar dengan teman di kantor, dan mengikuti segala peraturan yang berlaku. Kewajiban lainnya adalah mengerjakan tugas-tugas dengan sebaik kemampuannya, bersikap jujur, responsif terhadap perintah atasan, dan selalu belajar agar dapat mengerjakan tugas dengan semakin baik. Apabila seorang pegawai melakukan semua kewajibannya secara konsisten, ia akan menjadi pegawai yang handal dan menjadi inspirasi bagi lingkungannya. Hal ini tentu akan sangat mempengaruhi karir dan perkembangan pribadinya. Apa yang dilakukan pegawai tersebut hanya sekedar menjalankan kewajibannya, namun dampaknya sangat besar baik bagi dirinya maupun bagi orang-orang disekelilingnya.

Contoh lain adalah kewajiban sebagai suami atau istri. Kewajiban suami yang paling mendasar adalah setia kepada istri dan kewajiban istri yang paling mendasar adalah setia kepada suami. Meskipun terlihat sangat sederhana, namun jika suami tidak setia pada istri, atau istri tidak setia pada suami maka tidak akan ada kebahagiaan dalam rumah tangga.

Meskipun terkesan sederhana, komitmen untuk menjalankan dharma atau kewajiban memiliki dampak yang sangat besar bagi hidup dan lingkungan kita. Apabila kita melaksanakan dharma kita, kebahagiaan adalah akibatnya. Sebaliknya, apabila kita mengabaikan dharma kita, kesengsaraan adalah akibatnya. Hubungan pelaksanaan dharma dengan kebahagiaan adalah yang sangat logis dan sederhana, namun begitu sering kita mengabaikannya.

Salah satu alasan seseorang mengabaikan dharma adalah karena menganggap pelaksanaan dharma mengandung risiko, seperti dianggap kaku, kehilangan kesempatan dan sebagainya. Sebenarnya jika tindakan seseorang didasari oleh komitmen pada dharma, lingkungan akan merasakan ketulusan orang tersebut sehingga ia tidak akan dianggap kaku. Pelaksanaan dharma juga tidak akan menyebabkan seseorang kehilangan kesempatan. Jika dengan menjalankan dharma seseorang kehilangan suatu kesempatan, sebenarnya Tuhan memiliki rencana yang lebih baik untuknya. Kesempatan yang seolah-olah hilang itu justru merupakan kesempatan untuk berlatih agar semakin mantap dalam menjalankan dharma. Dalam Bhagawad Gita ditegaskan bahwa siapapun yang melindungi dharma akan dilindungi oleh dharma[8]. Oleh karena itu, pelaksanaan dharma justru merupakan perlindungan yang paling aman bagi seseorang.

Hal lain yang menyebabkan seseorang tidak menjalankan dharma adalah karena ia tidak membuat keputusan untuk selalu berpegang pada dharma[9]. Tidak jarang seseorang mendapat kesempatan melakukan tindakan yang bertentangan dengan dharmanya. Apabila ia tidak membuat keputusan untuk selalu berpegang pada dharma, akan sangat sulit untuk melakukan tindakan yang benar pada saat kesempatan-kesempatan tersebut datang. Sebaliknya apabila seseorang sudah memutuskan untuk selalu berpegang pada dharma, ia bahkan tidak akan membiarkan kesempatan-kesempatan tersebut mengganggu pikirannya.

 

Apakah dharma kita ?

Dalam kehidupan sehari-hari, tampak bahwa hidup memberi begitu banyak pilihan sehingga kadang sulit untuk menentukan apa dharma kita. Dalam buku yang berjudul Pancaran Dharma, Bhagawan Sri Sathya Sai Baba mengelompokan dharma menjadi dua. Yang pertama adalah Atma Dharma, atau kewajiban rohani, dan yang kedua adalah Acara Dharma, atau kewajiban yang timbul sehubungan dengan peran kita sehari-hari[10].

Atma Dharma dan Acara Dharma adalah saling terkait dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Atma Dharma haruslah menjadi motif dalam melaksanakan Acara Dharma. Segala sesuatu yang kita lakukan sehari-hari haruslah dilandasi oleh motif rohani. Artinya, kita berkeluarga dengan motif rohani, kita bekerja dengan motif rohani, kita berekreasi dengan motif rohani, kita melakukan segala sesuatu dengan motif rohani. Dengan meresapi hal ini, motif rohani akan menjiwai seluruh kegiatan kita dan sehingga seluruh kegiatan kita disamping merupakan pemenuhan terhadap kewajiban sosial kita juga merupakan pemenuhan terhadap kewajiban rohani.

Lebih lanjut, Swamini Vimalananda dari perguruan Chinmayananda menjelaskan bahwa dharma seseorang tidak boleh bertentangan dengan hukum yang berlaku, dan tidak boleh bertentangan dengan wasana atau karakter orang yang bersangkutan[11].

Berdasarkan penjelasan di atas, setidaknya terdapat tiga kriteria untuk menilai apakah suatu kegiatan merupakan dharma kita atau bukan. Yang pertama, karena Acara Dharma merupakan implementasi Atma Dharma, perlu dilihat apakah kegiatan tersebut menunjang kehidupan rohani kita. Apabila tidak menunjang maka kegiatan tersebut bukan dharma kita. Kriteria kedua adalah dengan melihat apakah kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan peraturan dan perundangan yang berlaku di lingkungan kita. Apabila kegiatan tersebut bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku, maka ia bukan dharma kita. Yang ketiga adalah dengan melihat apakah kegiatan tersebut sesuai dengan vasana, atau karakter, kita. Dalam praktek, sulit untuk menilai kesesuaian suatu kegiatan dengan karakter kita. Oleh karena itu jika kita tidak menikmati pekerjaan kita, sebaiknya kita tidak terlalu cepat menyimpulkan bahwa pekerjaan tersebut bukan dharma kita. Dharma adalah mengerjakan dengan sebaik-baiknya apa yang menjadi tugas kita, sehingga kita harus mengerjakan dengan sebaik-baiknya pekerjaan kita terlepas apakah kita suka atau tidak suka dengan pekerjaan tersebut. Jika nanti kita mendapatkan pekerjaan yang lebih sesuai dengan minat kita, setidaknya kita sudah menimba ilmu dan pengalaman di tempat kerja yang sebelumnya.

Demikianlah uraian singkat mengenai pelaksanaan dharma. Pelaksanaan dharma merupakan syarat bagi kehidupan yang berbahagia. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan, tetapi dengan senantiasa menjalankan dharma setidaknya kita dapat berupaya agar kehidupan kita selalu bahagia. Kalimat Mahatma Gandhi berikut dapat memberikan inspirasi untuk selalu berpegang pada dharma. Let me take care of today, and let God take care of tomorrow, biarkan saya berbuat yang terbaik hari ini, dan biarkan Tuhan yang memikirkan masalah besok. Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita berdasarkan waktu dan tempat yang terbaik. Oleh karena itu yang perlu kita lakukan adalah melakukan kewajiban kita dengan sebaik-baiknya.

 

 

Daftar Pustaka:

  1. Pudja, Gede, SH, MA, Bhagawad Gita, Penerbit Paramita Surabaya, 2004
  2. Kadjeng, I Njoman, dkk, Sarasamuccaya, 2000
  3. Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, Pancaran Dharma, Yayasan Sri Sathya Sai Indonesia, Edisi 1, 1993
  4. Rukmana, Hardiyanti, Butir-Butir Budaya Jawa, Yayasan Purna Bhakti Pertiwi, 1996
  5. Chu, Chin-Ning, Thick Face Black Heart, Muka Tebal Hati Hitam, Pustaka Delapratasa, Jakarta 1996.

Krishna, Anand, Bhagawad Gita Bagi Orang M

[1] Swami Tejomayananda, Dharma, Central Chinmaya Mission Trust, Mumbai, July 2004

[2] Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, Intisari Bhagawad Gita, Yayasan Sri Sathya Sai Indonesia, Cetakan kedua,1996

[3] I Njoman Kadjeng, dkk, Sarasamusccaya, 2000

[4] I Njoman Kadjeng, dkk, Sarasamusccaya, 2000

[5] Swami Chinmayananda, Dharma, Central Chinmaya Mission Trust, Mumbai, July 2004

[6] Krishna, Anand, Bhagawad Gita Bagi Orang Modern, Gramedia, 1998

[7] H. Rukmana, Hardiyanti, Butir-Butir Budaya Jawa, Yayasan Purna Bhakti Pertiwi, 1996

[8]  Pudja, Gede, MA, SH, Bhagawad Gita, Penerbit Paramita Surabaya, 2004

[9] Maxwell, John, www.youtube.com

[10] Bhagawan Sri Satya Sai Baba, Pancaran Dharma, Yayasan Sri Sathya Sai Indonesia, Edisi 1, 1993

[11] Swami Vimalananda, Central Chinmaya Mission Trust, Mumbai, July 2004