Category Archives: ARTIKEL

USBN FINAL

Jakarta, 1 Maret 2017

Om Swastiastu,

Angayu bagia kami haturkan kepada Sang Hyang Widhi, atas karunia, perkenannya, kekuatannya dan cinta kasihnya sehingga MGMP dan KKG provinsi DKI Jakarta dapat menyelesaikan Soal USBN jenjang SMP dan SMA tahun ajaran 2016-2017. kami pengurus MGMP dan KKG mengucapakan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada teman-teman yang telah meluangkan waktu, tenaga, uang, dan pikirannya untuk berkontribusi dan menjadikan MGMP dan KKG mempunyai karya yang luar biasa.

banyak hal-hal positif yang dapat dipetik dari rangkaian kegiatan penyusunan soal-soal USBN AGAMA HINDU untuk wilayah DKI Jakarta. kami melihat kebersamaan, keakraban, kecintaan, ketulusan, dan pengabdian yang luar biasa dari teman-teman kami semua.

ucapan terima kasih juga kami ucapkan kepada Sang Hyang Widhi yang telah memberikan kemudahan kepada kami sehingga kami dapat berumpul di tempat yang suci dan penuh sejarah. Sang Hyang Widhi selalu hadir dan memberikan ide-ide yang cemerlang kepada kita semua sehingga karya besar ini dapat kita selesaikan dengan baik.

ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada BIMAS HINDU DKI Jakarta yang terus mengawal kegiatan ini sehingga mencapai puncaknya. hasil dari kegiatan penyusunan SOAL USBN akhirnya mencapai Final tanggal 1 maret 2017 dan sudah diserahkan kepada PEMBIMAS sebagai penanggung jawab.

Semoga apa yang telah dilakukan oleh Guru-Guru Agama Hindu DKI Jakarta yang tergabung dalam MGMP dan KKG diberikan anugrah yan luar biasa oleh Sang Hyang Widhi, sehingga dapat memberikan yang terbaik setiap saat.

Om Santih Santih Santih Om

by rareangon.

Penyusunan Soal USBN tahap II

Jakarta, 18 Februari 2017

Om Swastiastu

Tanggal 18 februari 2017, berlokasi di Pura Aditya Jaya Rawamangun, para guru agama Hindu di wilayah DKI Jakarta jenjang SD, SMP dan SMA baik dari sekolah umum dan sekolah mingguan berkumpul meyamakan persepsi dan tujuan untuk menyelesaikan soal-soal USBN 2016-2017. Para Guru sangat antusias dalam memberikan pandangan dan pendapat bagiamana memberikan yang terbaik dalam menyusun soal dan menjadikan peserta didik memiliki komitmen tinggi dalam belajar.

Pertemuan MGMP dan KKG Pendidikan Agama Hindu (PAH) DKI Jakarta di Hadiri oleh bapak Bimbingan  Masyarakat Hindu, beliau memberikan arahan bahwa MGMP merupakan motor penggerak pendidikan agama Hindu di DKI, sebagai penggerak maka kontribusi dan semangat MGMP dan KKG merupakan roh perkembangan pendidikan Hindu kedepannya.

Setelah mendapat arahan dari PEMBIMAS, dengan semangat dan tujuan yang sama untuk memberikan yang terbaik dalam meningkatkan pendidikan Agama Hindu, guru-guru Agama Hindu mulai mengatur strategi dan membagi tugas untuk menyelesaikan penyusunan Soal-soal USBN Agama Hindu.

Kegiatan penyusunan soal dimulai jam 10.30 sampai pukul 15.30, semua peserta dengan penuh semangat saling berdiskusi untuk memberikan masukan dan saran sehingga soal-soal yang dihasilkan memiliki kualitas yang memadai sesuai harapan. Soal-Soal yang disusun mengacu pada level-level kesulitan sesuai peraturan yang ada.

setelah melewati waktu yang panjang akhirnya soal-soal tersebut dapat diselesaikan oleh para Guru Agama Hindu, dan dikumpulkan jadi satu untuk kemudian dilakukan revisi dan diolah menjadi soal final. Terima Kasih para guru agama Hindu DKI yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk USBN.

Om Santih Santih Santih Om

 

by rareangon.

Penelaahan Kisi-kisi ke dalam Soal

Jakarta, 28 Januari 2017

by rareangon

Penelaahan KISI-KISI

Om Swastiastu

Pukul 10.00 bertempat di areal Pura Raditya Jaya Rawamangun, para guru agama Hindu yang bertugas di Lingkungan Provinsi DKI Jakarta telah berkumpul untuk menyamakan persepsi dalam menghadapi USBN 2017. pagi itu acara penelaahan Kisi-Kisi di hadiri oleh Bapak Pembimas Hindu DKI Jakarta, Bapak I Gusti Made Mudana, beliau sebagai pembimbing sekaligus sebagai pembuka kegiatan. beliau berpesan kepada seluruh guru yang hadir untuk tetap semangat dan solid dalam mempersiapkan peserta didik siap menghadapi USBN. selain arahan yang diberikan Pembimas, dalam kegiatan pertemuan MGMP DKI Jakarta juga diberikan informasi-informasi mendasar tentang perkembangan USBN 2017.

waktu menjelang siang setalah mendapatkan arahan para guru langsung membentuk kelompok sesuai jenjangnya guna membahas Kisi-Kisi yang ada, setiap kelompok ditunjuk salah satu leader sebagai pemandu dan pengarah kelompok dalam bekarja. kegiatan berlangsung dengan tertib dan suasana diskusi anatar anggota kelompok terlihat sangat menarik dan seru banget.

tidak terasa kegiatan berjalan hingga 4 jam, waktu telah menunjukkan pukul 15.00, para guru sudah mulai kelihatan lelah dan beberapa orang mengusulkan untuk dilanjukan pada pertemuan akan datang. semua anggota setuju dan berkomitmen untuk selalu berkontribusi maksimal dalam setiap kegiatan MGMP.

akhirnya seluruh angota MGMP menghaturkan terima kasih kepada Sang Hyang Widhi sebagai pembimbing, pengarah dan pelindung kita semua sehingga acara berjalan dengan lancar.

Om Santih Santih Santih Om.

Audensi MGMP dan KKG ke Pembimas Hindu DKI

Jakarta 19 Januari 2017

by rareangon

 AUDENSI USBN AGAMA HINDU

Om Swastiastu angayu bagya kita haturkan kehadapan Sang Hyang Widhi, karena atas karunianya, kasihnya dan leimpahan berkahnya kepada kami sehingga rencana Audensi dengan Pembimas dapat terlaksana. Sore hari pukul 15.25 pengurus MGMP dan KKG Agama Hindu DKI Jakarta mengadakan Audensi dengan Pembimas Hindu DKI Jakarta dengan agenda menyamakan persepsi tentang kesiapan menghadapi USBN. Pada Audensi kali ini Pembimas Hindu DKI Jakarta bapak I Gusti Made Mudana sangat memberikan apresiasi dan sangat menyambut baik kehadiran pengurus MGMP dan KKG. beliau mengatakan akan membangun sinergi yang baik dengan MGMP dan KKG terkait pendidikan Agama Hindu di wilayah DKI. pada kesempatan ini pengurus MGMP dan KKG menyampaikan kesiapan dan kendala yang dihadapi MGMP dan KKG. Dalam pertemuan yang berlangsung satu jam di kantor Kanwil Bimas Hindu DKI Jakarta memberikan semangat dan motivasi baru bagi pengurus MGMP dan KKG untuk terus berkarya mendukung dan memajukan kualitas diri dan pendidikan Agama Hindu diwilayah DKI Jakarta. Semoga harapan  baru ini akan memberikan semangat baru dan berkah baru.

Om Santih Santih Santih Om

Sosialisasi USBN

Jakarta, 14 Januari 2017

by rareangon

om Swastiastu

Angayu bagia lan puji syukur kami haturkan kehadapan Hyang Widhi, karena atas berkenan beliau MGMP PAH DKI mampu mengadakan kegiatan dengan keterbatasan yang ada.

Pada tanggal 14 Januari 2017 bertempat di Kelas SD Pertiwi Abhilasa, Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti (PAH) melaksanakan Sosialisai USBN tahun ajaran 2016/2017. kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengenalan serta arahan kepada guru-guru PAH se DKI Jakarta untuk dapat menghadapi tantangan kedepan. Sosialisai USBN diberikan oleh nara sumber intern MGMP DKI, dalam paparan materinya nara sumber memberikan informasi bahwa dalam penyususnan soal-soal USBN yang akan dilasanakan disekolah-sekolah merupakan kontribusi dari MGMP.

Selain itu nara sumber juga mengingatkan para pendidik untuk mulai mempersiapkan peserta didiknya agar mampu menghadapi USBN dengan semangat yang positif. semangat yang ditunjukkan peserta diskusi MGMP menunjukkan semangat yang luar biasa untuk menyambut USBN 2017.

selain sosialisai USBN dalam pertemuan MGMP DKI juga membahas penyusunan SKL ujian praktik untuk jenjang SD, SMP dan SMA, sehingga kesiapan pendidik dan peserta didik lebih matang. semoga pertemuan ini menjadi awal dari sebuah kemajuan dalam mempersipakan diri untuk menghadapai tantangan di era globalisasi dan informasi yang sangat maju.

Om Santih, Santih Santih OM

Dharma, Syarat Kehidupan Yang Bahagia

Oleh :

I Made B. Tirthayatra

Dharma merupakan hal yang mendasar dalam ajaran Hindu. Berbagai pustaka suci Hindu disebut juga dengan Dharma Sastra karena merupakan penjelasan mengenai dharma dan cara pelaksanaannya[1]. Bahkan tujuan ditulisnya Bhagawad Gita, kitab yang merupakan intisari Veda, adalah untuk mengingatkan manusia agar menjalankan dharma. Bhagawad Gita dimulai dengan kata dharma dan diakhiri dengan kata mama yang artinya adalah kepunyaanku. Apabila kata pembuka dan penutup Bhagawad Gita ini digabung, ia akan menjadi mamadharma yang artinya adalah dharma saya[2]. Oleh karena itu kitab yang merupakan intisari Veda ini tidak lain merupakan petunjuk bagaimana manusia menjalankan dharma atau kewajibannya.

Pentingnya pelaksanaan dharma juga dapat dilihat dari konsep Catur Purusha Artha, atau empat tujuan hidup yang utama. Dari empat tujuan hidup yang diajarkan dalam Agama Hindu, dharma berada pada urutan pertama, kemudian baru disusul oleh artha (kekayaan), kama (nafsu, keinginan) dan moksa (kebebasan). Ditempatkannya dharma pada urutan pertama menunjukkan bahwa dharma lah yang harus dicapai pertama kali. Jika seseorang berpegang pada dharma, dengan sendirinya ia akan mendapatkan artha dan kama[3]. Tidak ada artinya mendapatkan artha dan kama apabila didapatkan dengan cara yang menyimpang dari dharma[4]. Pencapaian kekayaan dan pemenuhan keinginan yang melanggar dharma tidak membawa moksa atau kebebasan, namun justru membawa ketakutan dan penderitaan. Begitu pentingnya konsep dharma dalam ajaran Hindu, sehingga nama Hindu, yaitu Hindu Dharma dan Sanathana Dharma, mengandung kata dharma di dalamnya.

Pengertian Dharma

Dharma merupakan karakteristik hakiki dari suatu entitas[5]. Karena karateristik hakiki suatu entitas akan menentukan kewajiban entitas tersebut, maka dharma juga berarti kewajiban. Sebagai contoh, karakteristik hakiki gula adalah rasa manis sehingga gula harus menjalankan kewajibannya memberikan rasa manis. Apabila gula berhenti menjalankan dharmanya memberikan rasa manis, ia tidak lagi dapat disebut gula. Demikian juga dengan api. Karakteristik dari api adalah rasa panas, sehingga api harus menjalankan kewajibannya memberikan rasa panas. Apabila api berhenti menjalankan dharmanya memberikan panas, maka ia tidak lagi dapat disebut api. Selain kewajiban, dharma memiliki pengertian lain yang lebih luas seperti kebaikan dan kebenaran[6]. Pengertian dharma sebagai kewajiban, kebaikan dan kebenaran adalah sejalan dan saling melengkapi, namun untuk menyederhanakan pembahasan dalam artikel ini pengertian dharma difokuskan pada kewajiban.

 

Manfaat pelaksanaan Dharma

Agama Hindu mengajarkan bahwa hidup manusia hendaknya semata-mata dimanfaatkan untuk menjalankan dharma atau kewajiban[7]. Dengan prinsip bahwa hidup adalah untuk menjalankan kewajiban, seseorang bukan saja akan bekerja tanpa pamrih namun juga tidak akan mencari kesenangan atau penghiburan yang bertentangan dengan kewajibannya.

Kewajiban-kewajiban yang kita miliki dalam hidup sangat beranekaragam. Misalnya kewajiban dalam peran sebagai anak, kewajiban dalam peran sebagai orang tua, sebagai suami atau istri, sebagai bawahan atau atasan dan sebagainya. Apabila seluruh kewajiban tersebut dijalankan dengan baik, bukan hanya kita yang memperoleh manfaatnya tetapi juga lingkungan kita. Sebaliknya, apabila ada satu saja kewajiban tersebut yang tidak kita jalankan, bukan hanya kita yang merasakan dampaknya tetapi juga orang-orang di sekitar kita.

Dengan menjalankan kewajiban secara konsisten, seseorang akan mendapatkan hasil yang di atas rata-rata. Misalnya seorang pegawai. Kewajiban pegawai antara lain adalah datang tepat waktu dan tidak pulang sebelum waktunya, tidak bertengkar dengan teman di kantor, dan mengikuti segala peraturan yang berlaku. Kewajiban lainnya adalah mengerjakan tugas-tugas dengan sebaik kemampuannya, bersikap jujur, responsif terhadap perintah atasan, dan selalu belajar agar dapat mengerjakan tugas dengan semakin baik. Apabila seorang pegawai melakukan semua kewajibannya secara konsisten, ia akan menjadi pegawai yang handal dan menjadi inspirasi bagi lingkungannya. Hal ini tentu akan sangat mempengaruhi karir dan perkembangan pribadinya. Apa yang dilakukan pegawai tersebut hanya sekedar menjalankan kewajibannya, namun dampaknya sangat besar baik bagi dirinya maupun bagi orang-orang disekelilingnya.

Contoh lain adalah kewajiban sebagai suami atau istri. Kewajiban suami yang paling mendasar adalah setia kepada istri dan kewajiban istri yang paling mendasar adalah setia kepada suami. Meskipun terlihat sangat sederhana, namun jika suami tidak setia pada istri, atau istri tidak setia pada suami maka tidak akan ada kebahagiaan dalam rumah tangga.

Meskipun terkesan sederhana, komitmen untuk menjalankan dharma atau kewajiban memiliki dampak yang sangat besar bagi hidup dan lingkungan kita. Apabila kita melaksanakan dharma kita, kebahagiaan adalah akibatnya. Sebaliknya, apabila kita mengabaikan dharma kita, kesengsaraan adalah akibatnya. Hubungan pelaksanaan dharma dengan kebahagiaan adalah yang sangat logis dan sederhana, namun begitu sering kita mengabaikannya.

Salah satu alasan seseorang mengabaikan dharma adalah karena menganggap pelaksanaan dharma mengandung risiko, seperti dianggap kaku, kehilangan kesempatan dan sebagainya. Sebenarnya jika tindakan seseorang didasari oleh komitmen pada dharma, lingkungan akan merasakan ketulusan orang tersebut sehingga ia tidak akan dianggap kaku. Pelaksanaan dharma juga tidak akan menyebabkan seseorang kehilangan kesempatan. Jika dengan menjalankan dharma seseorang kehilangan suatu kesempatan, sebenarnya Tuhan memiliki rencana yang lebih baik untuknya. Kesempatan yang seolah-olah hilang itu justru merupakan kesempatan untuk berlatih agar semakin mantap dalam menjalankan dharma. Dalam Bhagawad Gita ditegaskan bahwa siapapun yang melindungi dharma akan dilindungi oleh dharma[8]. Oleh karena itu, pelaksanaan dharma justru merupakan perlindungan yang paling aman bagi seseorang.

Hal lain yang menyebabkan seseorang tidak menjalankan dharma adalah karena ia tidak membuat keputusan untuk selalu berpegang pada dharma[9]. Tidak jarang seseorang mendapat kesempatan melakukan tindakan yang bertentangan dengan dharmanya. Apabila ia tidak membuat keputusan untuk selalu berpegang pada dharma, akan sangat sulit untuk melakukan tindakan yang benar pada saat kesempatan-kesempatan tersebut datang. Sebaliknya apabila seseorang sudah memutuskan untuk selalu berpegang pada dharma, ia bahkan tidak akan membiarkan kesempatan-kesempatan tersebut mengganggu pikirannya.

 

Apakah dharma kita ?

Dalam kehidupan sehari-hari, tampak bahwa hidup memberi begitu banyak pilihan sehingga kadang sulit untuk menentukan apa dharma kita. Dalam buku yang berjudul Pancaran Dharma, Bhagawan Sri Sathya Sai Baba mengelompokan dharma menjadi dua. Yang pertama adalah Atma Dharma, atau kewajiban rohani, dan yang kedua adalah Acara Dharma, atau kewajiban yang timbul sehubungan dengan peran kita sehari-hari[10].

Atma Dharma dan Acara Dharma adalah saling terkait dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Atma Dharma haruslah menjadi motif dalam melaksanakan Acara Dharma. Segala sesuatu yang kita lakukan sehari-hari haruslah dilandasi oleh motif rohani. Artinya, kita berkeluarga dengan motif rohani, kita bekerja dengan motif rohani, kita berekreasi dengan motif rohani, kita melakukan segala sesuatu dengan motif rohani. Dengan meresapi hal ini, motif rohani akan menjiwai seluruh kegiatan kita dan sehingga seluruh kegiatan kita disamping merupakan pemenuhan terhadap kewajiban sosial kita juga merupakan pemenuhan terhadap kewajiban rohani.

Lebih lanjut, Swamini Vimalananda dari perguruan Chinmayananda menjelaskan bahwa dharma seseorang tidak boleh bertentangan dengan hukum yang berlaku, dan tidak boleh bertentangan dengan wasana atau karakter orang yang bersangkutan[11].

Berdasarkan penjelasan di atas, setidaknya terdapat tiga kriteria untuk menilai apakah suatu kegiatan merupakan dharma kita atau bukan. Yang pertama, karena Acara Dharma merupakan implementasi Atma Dharma, perlu dilihat apakah kegiatan tersebut menunjang kehidupan rohani kita. Apabila tidak menunjang maka kegiatan tersebut bukan dharma kita. Kriteria kedua adalah dengan melihat apakah kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan peraturan dan perundangan yang berlaku di lingkungan kita. Apabila kegiatan tersebut bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku, maka ia bukan dharma kita. Yang ketiga adalah dengan melihat apakah kegiatan tersebut sesuai dengan vasana, atau karakter, kita. Dalam praktek, sulit untuk menilai kesesuaian suatu kegiatan dengan karakter kita. Oleh karena itu jika kita tidak menikmati pekerjaan kita, sebaiknya kita tidak terlalu cepat menyimpulkan bahwa pekerjaan tersebut bukan dharma kita. Dharma adalah mengerjakan dengan sebaik-baiknya apa yang menjadi tugas kita, sehingga kita harus mengerjakan dengan sebaik-baiknya pekerjaan kita terlepas apakah kita suka atau tidak suka dengan pekerjaan tersebut. Jika nanti kita mendapatkan pekerjaan yang lebih sesuai dengan minat kita, setidaknya kita sudah menimba ilmu dan pengalaman di tempat kerja yang sebelumnya.

Demikianlah uraian singkat mengenai pelaksanaan dharma. Pelaksanaan dharma merupakan syarat bagi kehidupan yang berbahagia. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan, tetapi dengan senantiasa menjalankan dharma setidaknya kita dapat berupaya agar kehidupan kita selalu bahagia. Kalimat Mahatma Gandhi berikut dapat memberikan inspirasi untuk selalu berpegang pada dharma. Let me take care of today, and let God take care of tomorrow, biarkan saya berbuat yang terbaik hari ini, dan biarkan Tuhan yang memikirkan masalah besok. Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita berdasarkan waktu dan tempat yang terbaik. Oleh karena itu yang perlu kita lakukan adalah melakukan kewajiban kita dengan sebaik-baiknya.

 

 

Daftar Pustaka:

  1. Pudja, Gede, SH, MA, Bhagawad Gita, Penerbit Paramita Surabaya, 2004
  2. Kadjeng, I Njoman, dkk, Sarasamuccaya, 2000
  3. Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, Pancaran Dharma, Yayasan Sri Sathya Sai Indonesia, Edisi 1, 1993
  4. Rukmana, Hardiyanti, Butir-Butir Budaya Jawa, Yayasan Purna Bhakti Pertiwi, 1996
  5. Chu, Chin-Ning, Thick Face Black Heart, Muka Tebal Hati Hitam, Pustaka Delapratasa, Jakarta 1996.

Krishna, Anand, Bhagawad Gita Bagi Orang M

[1] Swami Tejomayananda, Dharma, Central Chinmaya Mission Trust, Mumbai, July 2004

[2] Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, Intisari Bhagawad Gita, Yayasan Sri Sathya Sai Indonesia, Cetakan kedua,1996

[3] I Njoman Kadjeng, dkk, Sarasamusccaya, 2000

[4] I Njoman Kadjeng, dkk, Sarasamusccaya, 2000

[5] Swami Chinmayananda, Dharma, Central Chinmaya Mission Trust, Mumbai, July 2004

[6] Krishna, Anand, Bhagawad Gita Bagi Orang Modern, Gramedia, 1998

[7] H. Rukmana, Hardiyanti, Butir-Butir Budaya Jawa, Yayasan Purna Bhakti Pertiwi, 1996

[8]  Pudja, Gede, MA, SH, Bhagawad Gita, Penerbit Paramita Surabaya, 2004

[9] Maxwell, John, www.youtube.com

[10] Bhagawan Sri Satya Sai Baba, Pancaran Dharma, Yayasan Sri Sathya Sai Indonesia, Edisi 1, 1993

[11] Swami Vimalananda, Central Chinmaya Mission Trust, Mumbai, July 2004